Scary Experience - Masa Meletusnya Merapi 2010 -part 2-
Pagi pun datang, hari Jumat tanggal 29 Oktober 2010. Air
sudah tidak ada di kos. Aku dan salah seorang mbak kos menumpang mandi di kos
tetangga karena harus pergi ke kampus. Mbak kos berbaik hati mengantarkanku ke
kampus untuk ujian. Belajar? Haha, jangan ditanya lagi. Lingkungan berubah
menjadi keabuan dan penuh debu akibat hujan abu yang terus turun. Ya, hujan abu
tidak kunjung berhenti. Pagar belakang kampus yang biasanya dibuka malah
ditutup, alhasil aku harus memanjat dan cuek tanganku terkena abu vulkanik.
Ujian pun aku kerjakan dengan sepenuhnya improvisasi dan ingatan seadanya.
Fokusku, fokus kami mahasiswa di Jogja adalah pulang ke rumah. Kabar yang beredar Sri Sultan
Hamengku Buwono X telah mengumumkan bahwa semua perguruan tinggi yang
ada di Yogyakarta diliburkan selama 1 minggu karena adanya bencana alam.
![]() |
hujan abu mengguyur Jogja saat malam archive.kaskus.co.id |
![]() |
kampus UGM tak luput dari hujan abu exp-o-dika.blogspot.com |
Selesai ujian semua mahasiswa bingung bagaimana caranya
pulang. Bukannya belum pernah pulang, tapi banyak isu terhentinya sarana
transportasi karena bencana. Mahasiswa asal Jogja hanya bisa pasrah karena
tempat mereka pulang tetap di Jogja. Sementara itu kondisi di luar kampus masih
hujan abu bercampur angin. Semua orang memakai masker walau hanya di lobi. Hal
ini karena abu vulkanik sangat berbahaya bila sampai terhirup. Konon dapat
menyebabkan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Pengumuman libur 1 minggu
tidak lantas membuatku senang. Mengapa? Karena pada siang hari itu sudah ada
jadwal seminar kecil dari IMAKAHI (Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia)
dan aku salah satu panitianya. Aku dan temanku berusaha membujuk mas ketua agar
membatalkan acara. Namun mas ketua malah acuh dan memutuskan memundurkan jam
acara saja. “Aaaarrghh..di luar sana ada bencana alam mas,” teriakku dalam
hati.
Acara IMAKAHI (tetap) berlangsung di ruang audio visual
lantai 2 Rumah Sakit Hewan (RSH) Prof. Soeparwi. Pikiranku tidak lagi fokus
karena aku ingin pulang. Suara gemuruh Merapi kadang terdengar dan aku tidak
habis pikir kenapa acara masih dilangsungkan di suasana seperti ini. Waktu menunjukkan pukul 17:00, acara inti sudah selesai dan saatnya sesi tanya jawab. Huwaaa...yang bertanya cuma mas ketua dan jawabannya panjang lebar. Akhirnya aku memutuskan untuk pamit sebelum acara bubar. Keluar dari gedung RSH sendiri penuh perjuangan karena suasana hampir gelap dan tidak ada orang di lantai 1. Pintu2 pun sebagian besar ditutup. Perlu
diketahui bahwa RSH ini dulunya adalah kampus FKH UGM sejak awal berdirinya UGM
tahun 1949. Struktur bangunannya sendiri masih dijaga dan dijadikan sebagai
bangunan cagar budaya. Aku sempat mendengar suara2 saat di bawah, antara takut dan ingin segera keluar aku setengah berlari menuju pintu samping dan syukurlah aku berhasil keluar.
Sejak siang aku sudah janjian dengan Kakak untuk pulang ke Salatiga bersama (saat itu domisili orang tuaku di Salatiga) segera setelah acaraku selesai. Sore setelah keluar dari RSH pun aku bertemu dengannya di pinggir jalan dan aku langsung menangis. Aku menangis karena sebelumnya sempat tersesat mencari Kakak. Kondisi jalanan saat itu lengan dan berdebu, tepatnya berabu. Merapi masih mengeluarkan suara2 dan aku memaksa untuk pulang saat itu. Kakak berusaha menenangkanku dan memutuskan untuk pulang keesokan harinya karena perjalanan saat malam hari akan lebih berbahaya.
-bersambung ..-
RSH Prof. Soeparwi id.worldmapz.com |
RSH Prof. Soeparwi tampak dari selatan www.panoramio.com |
-bersambung ..-
Komentar
Posting Komentar